FYCC 2007-GEOKS Singapadu-Gianyar, Bali
10 - 13 AUG 2007




Latar Belakang
Lima belas tahun terakhir ini banyak garapan baru di bidang seni tari dan musik yang telah dihasilkan melalui olah kreativitas oleh para koreografer dan composer muda di Indonesia dan di negara lainnya di Asia, khususnya Asia Tenggara. Realita ini adalah pertanda dari terlah terjadinya kegairahan berkreativitas di antara para seniman muda berbakat di wilayah regional ini. Namun demikian sebagin besar dari karya-karya baru ini belum pernah ditampilkan dalam forum atau festival bertaraf nasional maupun transnasional. Akibatnya, kemunculan karya-karya seni yang cemerlang ini memiliki dampak yang tidak terlalu besar terhadap arus perkembangan seni pertunjukan kontemporer di Asia. Untuk merespon realita seperti ini, Geria Olah Kreativitas Seni (GEOKS), sebuah pusat olah kreativitas swasta yang berlokasi di Desa Singapadu-Gianyar Bali (Indonesia), menyelenggarakan even dua tahunan yang diberinama Forum Koreografer dan Komposer Muda (FKKM).

FKKM 2007 adalah sebuah even seni pertunjukan lintas nasional untuk memberikan ruang dan ajang kompetisi serta dialog antara para koreografer and composer muda. Forum ini adalah suatu wadah bagi para kreator muda untuk berbagi pengalaman kreatif dan belajar antara satu dengan lainnya. Forum ini diadakan dengan maksud: untuk mendorong pertumbuhan kreativitas di antara para seniman muda, khususnya koreografer dan composer, baik yang berasal dari Indonesia maupun yang datang dari negara lainnya di Asia terutama Asia Tenggara; untuk memberikan ruang dan kesempatan berkompetisi dan berdilog antara sesama seniman; untuk membantu terbentuknya jejaring kerja dan hubungan kerja sama secara nasional dan internasional antar seniman generasi muda; serta untuk menumbuhkan komunitas penonton seni kontemporer baik dikalangan lokal, rural, maupun masyarakat urban.

Pelaksanaan
Forum FKKM 2007 adalah even seni empat hari, dari tanggal 10 sampai dengan 13 Agutus 2007. Semua kegiatan (pertunjukan, lokakarya dan diskusi) diselenggarakan di GEOKS-Singapadu/ Gianyar Bali. Fokus kegiatan dua hari pertama adalah pertunjukan dan presentasi dari para seniman peserta yang dilanjutkan dengan diskusi (pada hari berikutnya). Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi para peserta untuk menyajikan proses kreatif serta pendekatan garap terhadap karya yang di tampilkan dalam forum. Beberapa seniman dari Indonesia, Cambodia, dan Taiwan, akan diberikan kesempatan untuk berkolaborasi untuk menciptakan sebuah garapan baru (work in progress), untuk ditampilkan pada malam budaya pada hari terakhir dari forum. Sejumlah pengamat yang dipilih oleh GEOKS akan menyajikan hasil observasi mereka terhadap karya-karya yang disajikan. Pementasan tari Bali klasik, Legong Keraton, akan juga ditampilkan pada acara penutupan.

Forum ini dirancang sebagai sebuah peristiwa seni dan budaya desa, yaitu semacam rembug seni yang dilaksanakan di tengah-tengah masyarakat desa (Singapadu). Selain semua kegiatan pentas, lokakarya, dan diskusi yang diadakan di desa, semua peserta akan di tempatkan di rumah-rumah penduduk setempat. Dengan mengadakan forum yang terpusat di desa seperti ini maka even ini akan bukan saja dapat meningkatkan apresiasi dari masyarakat lokal terhadap seni kontemporer, namun yang lebih penting lagi, untuk memberikan kesempatan emas bagi para peserta untuk mengalami aktivitas seni yang nyata dari warga desa Singapadu. Diharapkan bahwa pada akhirnya pengalaman seperti ini akan memberikan dorongan para peserta, setelah kembali dari forum ini, untuk menggali potensi seni dan budaya di wilayah budaya mereka masing-masing.

Penonton yang diharapkan untuk menyaksikan forum ini adalah campuran dari para penggemar seni kontemporer yang meliputi siswa dan mahasiswa, guru dan dosen, dari sanggar-sanggar serta sekolah-sekolah seni yang ada di Bali. Penonton dari masyarakat lokal juga diberikan kesempatan yang cukup untuk turut menyimak aktivitas forum terutama penyajian karya-karya dan diskusi. Agar aktivitas forum juga bisa ikut disimak oleh masyarakat luas, beberapa aktivitasnya akan disiarkan oleh radioa dan televise, serta surat kabar, baik yang bersifat lokal maupun nasional.

Sekilas Tentang GEOKS dan Singapadu
Geria Olah Kreativitas Seni (GEOKS) adalah organisasi non pemerintahyang bertempat tinggal di desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Gianyar-Bali. Sejak pendiriannya pada tahun 2004, menggunakan ruang pentas yang dimilikinya, GEOKS telah menyelenggarakan berbagai jenis kegiatan seni pertunjukan yang meliputi pertunjukan, seminar, diskusi, seminar, ceramah, dan lokakarya. Dari kegiatan-kegiatan ini beberapa di antaranya menampilkan seniman dan pembicara luar negeri.

GEOKS secara unik berlokasi di jantung desa Singapadu yang merupakan sebuah desa yang kaya dengan berbagai jenis seni pertunjukan, seni rupa termasuk kerajinan, sehingga akan menjadi suatu lingkungan yang cukup luar biasa bagi forum ini. Jauh dari keramaian kota, lingkungan seperti ini akan menumbuhkan suasana reflektif dan meditatif yang sangat dibutuhkan bagi proses kreatif.

Sejak 1948 Singapadu telah terkenal dengan tari “Barong and Kris” nya. Selain itu, desa ini juga telah berhasil mewarisi sejumlah seni pertunjukan seperti gong kebyar, gong luang/saron, topeng, kecak, dan dramatari arja. Di desa ini juga lahir dan tinggal sejumlah ahli seni dan seniman/seniwati di bidang seni pertunjukan dan seni rupa (pengukir kayu, pematung, pelukis) yang diantaranya telah memiliki pengakuan masyarakat luas, baik nasional maupun internasional. Dengan lingkungan seni seperti ini, masyarakat penonton Singapadu dikenal sebagai publik yang mengerti seni dan berpengetahuan. Walaupun intensitas kegiatan seni di desa ini sedikit menurun dalam dua puluh tahun terakhir ini, Singapadu hingga kini masih dilihat sebagai “desa kesenian.”

Peserta
FKKM 2007 akan menampilkan 12 orang koreografer dan 6 orang composer. Para koreografer terdiri atas 3 koreografer (dari Taiwan, Kambodia, Malaysia), dan 9 orang koreografer Indonesia datang dari Yogyakarta, Surakarta, Surabaya, Mataram, dan Denpasar. Para komposer datang dari: Yogyakarta, Surakarta, Tenggarong (Kaltim), dan Denpasar (Di masa datang forum ini diharapkan akan dapat mendatangkan seniman dari berbagai belahan dunia lainnya). Setiap koreografer dan komposer akan menampilkan sebuah garapan yang dipilih dari karya tunggal, berpasangan, dan kelompok kecil antara 3 sampai 4 orang, dengan durasi pentas maksimal 15 menit.

Acara Pertunjukan
Programme
(Hari Pertama/Day 1)

1. Microcosmos
Manusia............ Humanity . . . . .
Dirinya dibayang – bayangi …….. His life is over shadowed . . . .
Dua hal yang berbeda............ By two different matters . . . . .
Selalu mempengaruhi................. It always influences . . . . .
Dan mengikutinya. And follows . . . . .

Koreografer/Choreographer, and pemain/performer: Sudiharto
Musik oleh/Music by: Budi Pramono

2. Wajah Semu – Created Face (2007).
Wajah ayu, menawan dan mempesona adalah anugrah Tuhan. Ketika kecantikan dibangun menggunakan topeng maka wajah cantik akan menjadi sebuah fatamorgana.

Beautiful face, attractive and charming is a blessing from Gods. But when beauty is created using wooden masks, the beautiful face will only be an illusion or fatamorgana.

Penari dan koreografer/dancer and choreographer: Kadek Danwan Witari.

3. Stick Cousticts (2007) Ary Wijaya
Garapan ini merupakan hasil explorasi dari alat-alat musik pukul dari berbagai budaya menggunakan alat pukul termasuk tangan.

This piece is a result of an exploration of percussive instruments (jimbe, bongo, gongs) of different musical cultures that use sticks and hands.

Komposer dan pemain/composer and performer: Ary Wijaya.

 

4. My Quilt - Selimut kain rajutan(2007)
Hidupku, seperti hidup kebanyakan orang, adalah ibarat selimut kain rajutan yang dipenuhi oleh berbagai wujud, bentuk, dan warna. Hidupku penuh dengan kebahagiaan, kesedihan, kebingungan, kekecewaan, serta perasaan lainnya yang memperkaya dan menjadi penyemangat dari perjalan hidupku. Bagaikan sebidang kain rajutan, aku ingin hidupku berguna dan bermakna bagi diriku dan juga orang lain.

My life, like many others, is like a quilt fragment. It is filled with different shapes, forms, motifs, and colors. It is filled with a mixture of joy, sadness, confusion, disappointment, and other feelings which enriches and becomes the pulse in my life journey. Like a quilt fragment, I want my life to be useful and meaningful to me and others.

Koreografer/Choreographer: Vita Valeska.
Penari/dancers: Vita Valeska, Boby Ary. S
Pemusik/musicians: Tari Hadi, Tri Pitaka.
Penata musik/Music by: Ary Juliyant

5. Dalam Gelap – In The Darkness
Dua bersahabat harus berjuang keras untuk memusnahkan cincin bertuah yang menyimpan kekuatan dahsyat. Mereka harus berjuang menghadapi berbagai rintangan dan hambatan dalam kegelapan.

Two bodies close together must struggle hard to destroy a sacred ring that is embued with tremendous magical power. They must overcome all kinds of obstructions and obstacles-- all in the darkness.

Penari/dancers: I Gede Parwata (koreografer) dan Ayik.

6. Senggrengan
Rebab, alat gesek yang bersuara khas, adalah salah satu instrument penting dalam gamelan, terutama di Jawa. Dirangsang oleh keunikan suara rebab, penata mencoba untuk menyusun jalinan melodi yang dengan berbagai technik permainan rebab.

Rebab, a bowed instrument with a unique sound, is one the most important instruments in a gamelan ensemble, especially for Javanese gamelan. Inspired by its unique sound, the composer arranges melodic lines through different rebab techniques.
Pemain: Wibowo (komposer), rajip, dan cesar.

7. Lamunan Duka – Song of Broken Hart (2007)
Setelah terlena dan terbuai oleh indahnya cinta, After being hypnotized and carried away by the beauty of love,
Aku tersentak oleh perbuatan khianat, I was struck by the act of betrayal,
Aku benci…, aku sakit hati, dan frustrasi, I hate . . . , I am hurt, and frustrated
Tapi aku tak akan menyerah, But I will never give up,
Cinta telah membuatku bangkit kembali. Love has kept me strong.

Penari: A.A. Dwi Dirgantini (koreografer), Ni Wayan Sadriani, I Kadek Agus Budiarta.
Penata Iringan: Agus Teja Santosa, Sanggar Nretya Dewi Junjungan Ubud.

8. Topeng Monyet -- A Monkey’s Mask (2006)
Sebuah topeng monyet, yang biasa digunakan dalam pertunjukan tari klasik Kamboja, adalah sumber inspirasi dari garapan ini. Ia lahir dari suatu hasrat untuk menemukan kembali identitas artistic seni pertunjukan Kamboja yang sempat hilang.
Karya ini diciptakan dalam lokakarya koreografer di Surabaya pada tahun 2006 yang kemudian disajikan sebagai sajian pengembira dalam Indonesia Dance Festival di Jakarta. Tahun 2007 tarian ini ditampilkan pada acara Singapore Arts Mart di teater Esplanade.

A monkey mask, which is commonly used in Cambodian classical dance, is the source of inspiration of this piece. Its’ creation was stimulated by a strong desire to rediscover the lost aesthetic identity of Cambodian performing arts.

The piece was created in a young choreographers training workshop in Surabaya, Indonesia. In July 2006 it was performed as part of the Indonesia Dance Festival in Jakarta and in June 2007 it was featured at the Singapore Arts Mart at the Esplanade. 

Pencipta dan pemain: Phon Sopheap
Choreographed and performed by: Phon Sopheap

Minggu, 12 Agustus 2007
Sunday, 12 August 2007

(Hari Kedua/Day 2)

1. Aouw!! (2007)
Apa yang ku cari, What I have been looking for
Hanyalah sebongkah kesenangan, Was only a piece of happiness
Yang kuperlakukan sekehendak hati, But since I handle it with no control
sehingga membawa petaka, It causes a disaster
Inikah ini cermin kesombongan? Is this a reflection of scorn?
Atau keangkuhan? Or of arrogance?
Yang tidak lagi menimbang rasa? Which contains no feelings?

Koreografer dan penari: Dek Geh.
Choreographer and dancer: Dek Geh.

2. Dreaming
Menari … menari … menari … Dance …dance… and dance . . .
Indahnya gerakan tubuhmu, Your body moves gracefully
Meliuk-liuk, berputar, berlari, melompat It bends, turns, runs, and jumps
Andaikan …… As if. . . . .

Penari dan koreografer: Sianne Widyawati Halim
Dancer and choreographer: Sianne Widyawati Halim

3. Senggama – Having Sex (2007)
Hubungan senggama bukanlah suatu hal yang tabu untuk diungkapkan. Kenangan nikmat hubungan senggama seringkali menjadi sumber inspirasi kreativitas seperti yang terjadi dalam karya seni musik.

Having sex is not something taboo to talk about. Very often the joy of having satisfying sex becomes a stimulus for creativity as frequently occurs in making of music.

Komposer/Composer: Agus Teja Santosa.
Pemain/performer: Agus Teja, Made Widana, Gusti Ngurah Adi Putra, Made Widana.

4. Moi Aussi (Aku Juga)
Ketika menentukan pilihan terhadap kemapanan hati, adalah menemukan mawar merah sebagai pertimbangan utama. Dalam deret waktu untuk memperta-nyakan: " apakah kau ingin mengerti dan berbagi?". Dan dalam deret waktu untuk menjawab: " ya, aku juga". Sebuah tubuh - biografi.

When making the choice for someone to love, it is to discover a red rose as the main measn of consideration. Within a sufficient amount of time to question: “will you want to understand and to share?”. And in a subsequent amount of time to answer: “yes, me too (moi aussi). A biography in body.

Kreografer dan penari: Kadek Yulia Puspasari
Choreographer and dancer: Kadek Yulia Puspasari

5.Guyub
Guyub berarti rukun atau damai yang bisa bermakna keselarasan, keharmonisan, dan keseimbangan. serta kebersamaan. Dengan menghargai adanya perbedaan, ketika bertemu kita saling padu meskipun mempunyai karakter yang berbeda-beda. Suasana rukun dan damai ini dicoba untuk diwujudkan dengan memadukan tiga budaya musik yang berbeda: keroncong, gamelan Jawa, dan kacapi Sunda.

Gujub in Javanese union or peace which also signifies being in tune, harmonious, and balance. Without denying our differences, when we meet we talk and interact. Using three different music cultures: keroncong, Javanese gamelan, and Sundanese kecapi, this music aims to convey such a harmonious social interaction in our community.

Komposer/composer: Dwi Harjanto.
Pemain/performers: Dwi Harjanto, Bambang Listyono,
Sugeng Riyadi, Joko Daryanto

6. Green Snake in Bali
Tari yang sering dijuluki Butoh dari Malaysia ini mendapat inspirasi dari seni Butoh Jepang. Memadukan dua element tradisi budaya ini, budaya Cina dan Jepang, garapan ini memperlihatkan pengembaraan lintas budaya dari sang koreografer.
This dance, referred by many as “Malaysian Butoh” is inspired by Butoh of Japan. Utilizing elements of two cultural traditions, the Chinese and Japanese, this dance shows the cross cultural journey of the choreographer.

Choreographer: Lee Swee Keong
Performed by: Lee Swee Keong and Kiea Kuan Nam.

7. Bung . . Tek ketek . . Bung
Di kala waktu-waktu senggang, warga desa sering kali duduk santai sambil memainkan potongan-potongan bambu dengan tempo dan pola ritme yang berbeda-beda. Bung tek ketek bung adalah garapan musik yang berangkat dari permainan bumbung-bumbung bambu.

During their free time, very often villagers in Bali spontaneously play bamboo tubes in different tempo and rhythmic patterns. Bung tek ketek bung is a music of interlocking bamboo tubes.

Komposer/composer: Pande Eka Mardiana (Yande).
Pemain/performers: Yande, Wayan Dartu, Kadek Astawa, dan Kadek Wiarta.

8. Earth, Ocean, Mountain (Bumi, Laut, Gunung)
Tubuh adalah bumi, darah adalah laut, tulang adalah gunung, nafas adalah tanda dari kehidupan. Dan lautan membersihkan pikiranku. Aku di sini karena aku adalah anak bumi.
Semangat dari pelatihan seperti ini adalah latar belakang dari karya ini. Bermacam-macam tehnik gerak dalam budaya Cina seperti tai-chi, pencak silat, dan opera China, yang semuanya dikembangkan dari alam dan rasa hormat terhadap bumi Ibu Pertiwi.

Body is the earth, blood is the ocean, bones are the mountains, the breath is the breeze through of the spirit. And the ocean cleanses my mind. I'm here because I'm the child of Mother Earth.

The spirit of my training is the idea behind my choreography. Different techniques of Chinese dance, such as tai-chi, martial arts and Chinese opera, all were developed from nature and the respect of our greatest mother—the earth.

Koreografer dan penari dan: Yi-Chun Chang.
Choreographer and dancer: Yi-Chun Chang.

Senen, 13 Agustus 2007
(Hari Ketiga/Day 3)

1. Kata Kita (Topa Group - Kaltim)
Kata-kata kita tak selalu sama….namun sesekali kita berkata sama. Banyak kata-kata yang tak kita pahami. Kita yang tak pernah diam, selalu berkata-kata…satu kata…dua kata…tiga kata….dan banyak kata…. Ternyata kata kita satu kata.

Our words are not always the same . . . however sometimes we speak the same words. So many words that we do not understand. We have never been quiet, we always speak words, two words, three words, and many words. It turns out that we speak just one word.
Komposer dan pemain/Composers ang performers:
Tri Andi Y, M. Aryadi, Nor Budi, Agus R.

2. Ka – Lemah (Menuju Bumi)
Bagai kabut yang turun ke dunia, Like mist falling to the earth
Bermuara di telaga bening And originating in a clean pond
Santun tutur bahasamu Your words are elegant
Wastramu adalah sayap Your sarong is your wing Sebagai alat untuk berpijak For you to stand on
Dan untuk tidak kembali lagi. And to never return.

Koreografer/Choreographer: Diah Kristin Natalia
Penari/dancers: Diah Kristin Natalia, Diah Yeti Mahayani, Putu Arsa Wijaya.

3. Work in Progress “Monkey”
Terpesona melihat kecantikan si cantik Trijata, kera-kera pasukan Rama menjadi salah tingkah. Ada yang diam-diam mencari jalan untuk mendekatinya dan ada juga yang terbengong-bengong memandangnya, tak tahu apa yang mesti diperbuat..

Charmed by the beauty of Trijata, the monkeys in Rama’s army become restless. Some quietly find a way to approach her but many others just stare at her not knowing what to do.

Pemain/dancers: Sianne Widyastuti Halim, Yi- Chun Chang,
Phon Sopheap, Dek Geh, Sudiharto.
Istirahat (10 menit)
Pause (10 minutes)

4. Legong Keraton Klasik
Persembahan “Sekaa Sabasari” Saba (Blahbatuh Gianyar).
Performed by: “Sekaa Sabasari” Saba (Blahbatuh Gianyar).
Pimpinan I Gusti Ngurah Serama Semadi SSP., M.Si.
Directed by: I Gusti Ngurah Serama Semadi.

Legong Keraton adalah tarian klasik Bali yang berrasal dari awal abad XIX. Memiliki perbendaharaan gerak yang sangat kompleks yang diikat oleh struktur tabuh pengiringnya, tarian yang biasanya ditarikan oleh sepasang gadis atau lebih yang menari sambil memainkan kipas, adalah perkembangan kemudian dari Gambuh. Hingga kini ada sejumlah daerah di Bali yang dipandang sebagai daerah pewaris tradisi legong seperti: Peliatan dan Saba di Gianyar, Binoh di Denpasar, dan Tista di Tabanan. Setiap daerah memiliki repertoire yang berbeda-beda sesuai tradisi mereka masing-masing.

Legong Keraton is a classical Balinese dance originating from the early XIX century. Embodying complex movements strongly animated by its musical accompaniment, this dance which is traditionally performed by a couple or a group of young girls who dance using fans, was a later development of the classical Gambuh dance-drama. Up until today legong dance can still be found in the villages of Peliatan and Saba of Gianyar, Binoh in Denpasar, and Tista in Kerambitan of Tabanan.

Malam ini Legong Saba akan mempersembahkan tari Legong Bapang dan Legong Sudarsana.
This evening, Saba group will present two pieces from their repertoire: Legong Bapang and Legong Sudarsana.

Legong Bapang
Bapang adalah nama sebuah tabuh yang dinamis dengan tempo yang cepat. Legong Bapang adalah sebuah repertoire Palegongan yang berisikan jalinan gerak-gerak abstrak dan ekspresif dengan iringan tabuh bapang. Tari Legong Bapang adalah ciptaan dari seorang empu tari legong I Gusti Gede Raka dari Saba.

Bapang is a name of a composition in Balinese gamelan characterized by fast tempo and dynamic music. Legong Bapang is a piece encompassing abstract and expressive movements accompanied by the musical composition known as bapang. This dance was a creation of I Gusti Gede Raka, the master legong of Saba.
Penari:
Legong Sudarsana
Sebuah repertoire yang hanya dimiliki oleh sekaa Legong Saba, Legong Sudarsana menggambarkan kisah heroik dari seorang patih andalan Kerajan Midarsa yang bernama Sudarsana dalam menghadapi Diah Pranacitra, murid seorang ahli ilmu hitam (pangeliyakan) bernama Dewi Jambawati yang hendak mencelakan sang raja karena sakit hati. Tari Legong ini diciptakan oleh I Gusti Gede Raka di tahun 1970an.

A piece known only by the legong group of Saba, Legong Sudarsana tells the heroic story of the Minister Sudarsana of Midarsa Kingdom when he challenges Diah Pranacitra, the most loyal follower of the abandoned witch Dewi Jambawati who aims to kill the king due to her jealousy. This legong was created by I Gusti Gede Raka in the early 1970s.

Penari:

About the Observers

Dr. Sal Murgiyanto
Born in Yogyakarta, Sal Murgiyanto is an accomplished performer of Javanese dance, an eminent scholar and writer specializing in Indonesian performing arts. He holds an MA in dance from Colorado University, and a Ph.D. from New York University, and he has written numerous of articles in many international journals. For the last fifteen years he spends half a year in Taipei (Taiwan) teaching at the Taiwan National Universityof Arts in Taipei.

Martinus Miroto
A choreographer born in Yogyakarta, Miroto is the director of Banjarmili Dance Studio in Yogyarakta. Trained in Javanese classical dance, he earned his MFA from UCLA. His works are highly respected because of their strong roots to and spirit of the Indonesian cultural tradition especially that of Java. Currentlty he is on the faculty of dance at The Indonesia Institute of the Arts, ISI, Yogyakarta.

Dr. Andrew McGraw
Is an ethnomusicologist who has conducted many years of research on contemporary music of Indonesia. He is a performer of both Javanese and Balinese music, earning his Ph.D from Wesleyan University in 2005. Currently he is an Associate Professor of Music at the University of Richmond.

I Made Arnawa SSKar., M.Sn.
Born in Tunjuk Tabanan, Arnawa is a composer with international recognition. His works, resulting from creative explorations in Balinese gamelan, have been featured at several events in the US, Germany and Holland. A member of the faculty of music with a Masters Degree from STSI Surakarta, Arnawa often sits as an observer and jury member for important music competitions in Bali and other places in Indonesia.

About the Artists.

Yi –Chun Chang (Taipei/Taiwan)
Yi-Chun Chang (Billy) adalah salah seorang penari dan koreografer yang sedang naik daun di Taipeh (Taiwan). Tamatan Taiwan National University of Arts, sejak 2001 Billy sudah menari (sebagai bintang tamu) pada sejumlah group tari contemporer terkenal di Taiwan diantaranya Cloud Gate dan Lan Yang Dance Company. Pada tahun 2006 dia mengikuti program pertukaran dengan Konservatori Tari di Purchase College State University of New York. Ia telah menari ke berbagai negara dan kedatangannya di Bali akan menjadi kunjungan nya yang pertama kalinya.

Phon Sopheap (Cambodia)
Lahir pada tahun 1981, Sopheap telah belajar tari topeng klasik Kambodia untuk peran laki, Lakhaon Kaol, sejak 1991, dengan pengkhususan peran kera. Pada tahun 2000 dia masuk ke Fakultas Seni Koreografi di Phnom Phen di mana hingga kini ia masih berstatus mahasiswa senior. Sopheap telah berkolaborasi dengan Pichet Kunchun, penari dan koreografer dari Thailand, untuk menciptakan garapan seni kontemporer “Revitalisasi Kera dan Raksasa” berdasarkan Lakhaon Kaol, yang telah ditampilkan dalam pembukaan Musium Nasional Singapore. Pada tahun 2006 ia mengikuti Pelatihan Koreografer Muda di Surabaya di mana ia ciptakan sebuah garapan berjudul “Sebuah Topeng Kera” yang akhirnya terpilih untuk ditampilkan sebagai acara tambahan dari Indonesian Dance Festival di Jakarta dan garapan ini akan juga ditampilkan pada Art Mart di Gedung Esplanade Singapore. Selain negara-negara yang telah disebutkan, Sopheap juga telah tour ke Cina, Vietnam, Australia, Inggris, dan Thailand.

Lee Swee Keong (Malaysia)
Lee Swee Keong adalah seorang penggiat teater kontemporer yang radikal dengan karya-karya dan gagasan yang sering bertentangan dengan seniman-seniwati Malaysia lainnya. Dengan mengeksplorasi gagasan-gagasan alternatif atas dasar pengalamannya mempelajari berbagai jenis seni pertunjukan, karya-karya Lee telah mendapat tempat tersendiri karena gaya dan kesegaran ide-idenya. Selain berlatih tari-tarian kontemporer dan Butoh, saat ini Lee lebih memperiorotaskan waktunya pada latihan Yoga. Ia sangat percaya bahwa latihan olah tubuh dan pembentukan watak adalah dasar dari segala seni. Waktu-waktu yang dihabiskannya dalam memainkan peranan ganda sebagai aktor dan penari telah secara efektif menghapus jurang pemisah antara tari dan drama dalam karya-karyanya. Sementara berkarya di Malaysia dengan para seniman anak negeri, Lee juga mencari peluang pertukaran dengan seniman dan budaya lain yang menghasilkan suatu catatan pengalaman dengan tekstur yang berlapis-lapis.

Sudiharto (Yogyakarta)
Sudiharto lahir pada tahun 1975, dan sudah mulai belajar menari sejak usia lima belas pada Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) Yograkarta dengan pengkhususan tari Jawa klasik gaya Yogyakarta. Ketika masih di SMKI ia dapat belajar dengan Romo Sasmito Mardowo, seorang empu tari klasik Java gaya Yograkarta di Yayasan Pamulangan Beksa Ngayogyakarta. Pada tahun 1994 ia masuk Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan mendapatkan gelar SSn pada tahun 1998. Tahun 1996 ia mengikuti lokakarya koreografi dengan Layson Ponce dari Venezuela dan Maxine Happner dari Kanada yang di selenggarakan oleh Indonesian Dance Festival di Jakarta. Setahun kemusian ia bergabung dengan Miroto Dance Company (Yogyakarta) yang membawanya ikut tour ke Prancis dan Belanda.

Wibowo (Yogyakarta)
Born in Semarang in 1978, Wibowo (Bowo) started learning music since a young age. For his formal education he went to ISI Yogyakarta where he earned his BA in Music Composition in 2007. He has attended numerous major festivals in Jakarta, Yogyakarta, and in many other cities in Indonesia, and he has performed with many leading choreographers and composers. Among his important new works are “Sali Tarung” (Bali Fusion) 2001, “Angan” Bali Perkusi (2002), “Tata Gado” (2003),

Kadek Yulia Puspasari (Surakarta)
Kadek lahir di Bali dan kemudian pindah ke Surakarta bersama orang tuanya. Pada tahun 1997, setelah tamat sekolah menengah, ia masuk STSI Surakarta untuk belajar koreografi dan berhasil memperoleh gelar Sarjana Seni pada tahun 2003. Kini Kadek adalah mahasiswa pasca sarjana di ISI Surakarta. Untuk menum-buh kembangkan bakat kreatifnya Kadek mendirikan grup tari Kadek Dance. Ia telah tampil dalam garapan dari sejumlah koreografer terkenal Indonesia di Solo, Jakarta, Yogyakarta, Makasar, Denpasar, dan kota-kota lainnya. Ia memenangkan hadiah pertama, sebagai koreografer, dalam Festival Nasional Reyog Ponorogo, di Jawa Timur. Karya-karyanya seperti Nadi (2003), Drupadi (2005), Sang Hara Sang (2005), dan Jugun Iian Fu (2006), telah ditampilkan dalam beberapa festival penting di Indonesia. Pengalaman tour internasionalnya meliputi Korea Selatan, Saudi Arabia, Eropa Timur, dan Taiwan.

Dwi Harjanto (Surakarta)
Born in Sukoharjo (Central Java) in 1979, Dwi has played Javanese gamelan since he was young. After finishing High School, he went to STSI Surakarta to study composition where he earned his BA in Musik (Karawitan) Composition in 2006. He has participated in many important music festivals in different cities in Indonesia. Among his latest compositions are: ” Hanya” (2004), ”Kawitan” (2005, and “Rukun” (2006) BA Final Composition Project, STSI Surakarta.

Sianne Widyawati Halim (Surabaya)
Born in Surabaya (East Java) in 1979, Sianne started taking ballet when she was four years old at Marlupi Dance School-Surabaya. Nine years later she studied traditional Indonesian and Chinese dance at Wijaya Kusuma Dance Studio, Surabaya. In 2001 she studied Jazz at Celeste Performing Arts, Kuala-Lumpur (Malaysia), in 2002 she went to Beijing to study Chinese Folk Dance at the Beijing Dance Academy. In 2004 and 2006 she participated in a dance workshop organized by Indonesian Dance Festival in Surabaya. She has also attended festivals of dance in many cities in Indonesia. Currently, she is an active member of World Dance Alliance Asia Pacific (WDAAP).

Vita Valeska (Mataram)
Lahir di Jakarta, Vita sudah mulai belajar menari sejak berusia 3 tahun. Kecintaannya pada dunia tari membuatnya tidak pernah bosan untuk mempelajari berbagai jenis tarian etnis di Indonesia, termasuk tari-musik-dan budaya Nusa Tenggara Barat, serta tari-tarian dari budaya asing, melalui beberapa sanggart tari ternama seperti LKB Saraswati, PLT Bagong Kussudihardjo, dan Pusdiklat Tari TMII. Ketika masuk IKJ ia mulai mengenal tari kontemporer, dan sejak tahun 1994 mulai mencipta tari. Sejumlah buah karya koreografinya sudah pernah ditampilkan dalam beberapa festival bergengsi di Jakarta dan dikota-kota lainnya. Baginya berkesenian adalah bagaikan air dan udara segar yang senantiasa membuat sehat dan bahagia.

Tri Andi Yuniarso – Topa Group (Kaltim)
Group di bawah pimpinan Tri Andi Yuniarso ini, yang beranggotakan pemusik-pemusik muda yang kreatif dan inovatif, bermarkas di Loa Ipuh, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Group musik yang ber-anggotakan anak-anak muda ini telah tampil di berbagai festival dengan karya-karyanya yang diwarnai oleh musik-musik Kalimantan.

Kedek Tegeh Octa Maheri “Dek Geh” (Bali)
Dek Geh, who was born in Singaraja in 1976, started learning Balinese dance in High School. He went to the Indonesia College of The Arts (STSI) Denpasar and earned his BA in Dance there in 2001. He has actively participated in the Annual Bali Arts Festival, and he has performed in works by leading Balinese choreographers. In 2001 he participated in the Workshop on Collaborative Arts III between Indonesian Art Institutes, sponsored by The Ford Foundation in Denpasar-Bali. In 2004 he was selected as a lead actor-dancer for I LA GALIGO, directed by Robert Wilson ( USA ) which has taken him to many cities in Asia, Europe, The United States of America, and Australia. Among his important works are: “Geta” choreograpphy for his BA final project (2001) STSI-Denpasar, “Patung Menari” (2003) produced by Waturenggong Dance Company, Denpasar. “Rwang Rong” a duet for masked barong (2003) produced by Waturenggong Dance Company for The Annual Bali Arts Festival in Denpasar-Bali, and “Sesalku” for The 2006 Forum for Young Choreographers and Composers at GEOKS-Singapadu, Bali Indonesia.

A.A. Dwi Dirgantini “Gung Dwi” (Bali)
Born in Peliatan, Ubud-Gianyar, Gung Dwi studied classical Balinese since she was six years old in her home village. She earned a BA in Dance Composition from The Indonesian Institute of Arts, ISI Denpasar in 2005, where she choreographed Rangda Wisesa based on Calonarang story. In 2005 she represented Bali at a collaboration of young Indonesian choreographers in Jakarta. Her international tour performing Balinese dance includes Malaysia, Philippine, Chile, and Peru.

Gede Parwata (Bali)
Born in Kapal, Mengwi Badung 1981, Parwata started learning classical Balinese when he was young. He went to the Indonesia College of The Arts, STSI (now ISI) Denpasar and earned his BA in Dance in 2004. He has received a number of prices at both local and national dance festivals. After graduating from ISI Denpasar he has actively participated in The Annual Bali Arts Festival, both as performer and choreographer. Among his important choreographies are: “Silayana” (2004), “Exotic Dwi Bhuwana” (2004), “Bulan dan Matahari” (2004), “Invisible War” (2005), “Prahara” (2006). He has performed both classical Balinese and contemporary dances in many cities in Indonesia. His international touring includes Malaysia and Zimbhabwe.

Ary Wijaya (Bali)
Ary lahir di Denpasar dan sudah mulai belajar menari dan bermain musik (gitar) sejak umur enam tahun. Ketika masuk SMP ia mulai tertarik dengan musik gamelan (Gong Kebyar) sambil terus mengasah bakatnya bermain musik Barat. Untuk pendidikan seni formalnya, ia masuk Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar dan memperoleh gelar Sarjana Seni di bidang komposisi karawitan. Ary telah berkolaborasi dengan sejumlah pemusik ternama di Bali dan belakangan ini dia memiliki hoby baru yaitu melakukan eksplorasi musik menggunakan komputer.

Kadek Danwan Witari (Bali)
Lahir di Tabanan (Bali), pada tahun 1984, Danwan mulai belajar menari, khususnya Kakebyaran, sejak berusia delapan tahun. Setelah tamat Sekolah Menengah Atas, ia masuk ISI Denpasar untuk belajar koreografi. Dengan karya tugas akhir berjudul “Pongah” ia berhasil menamatkan studinya dan mendapat gelar Sarjana Seni tahun 2007. Ketika masih dibangku studi, Danwan yang kini aktif menari di The Souldflidi Conrad Resort in Benoa-Bali, selalu ikut aktif dalam berbagai pergelaran ISI Denpasar ke Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia termasuk ke Tailand.

Agus Teja Sentosa (Bali)
Agus Teja lahir di Karangasem (Bali) pada tahun 1982. Awal pelatihannya di bidang seni berawal dari seni tari yang dimulainya sejak usia enam tahun. Lima tahun kemudian ia tertarik dengan main gamelan dengan grup Genta Buana Sari di Peliatan. Pemain terompong tamat ISI Denpasar dengan gelar Sarjana Seni ini telah beberapa kali ikut ambil bagian dalam Festival Gong Kebyar dalam rangka Pesta Kesenian Bali. Sejak tahun 2005 ia bergabung dengan Jes Bali Gamelan Fusion, sebuah kelompok musik professional yang dalam karya-karyanya memadukan unsure-unsur musik Bali dan Barat. Pengalaman internasionalnya meliputi Jepang, Singapura, dan Taiwan.

Pande Gede Eka Mardiana (Bali)
Lahir di Denpasar (Bali) tahun 1985, Pande kini masih berstatus sebagai mahasiswa Jurusan Karawitan ISI Denpasar untuk bidang komposisi. Ia telah tampil dalam beberapa Lomba Gong Kebyar dalam rangka Pesta Kesenian Bali, baik untuk anak-anak dan dewasa, dan pada tampilan ISI Denpasar lainnya dalam tour ke beberapa kota besar di Indonesia. Sejak 2005 ia bergabung dengan kelompok Jes Bali Gamelan Fusion, sebuah grup professional yang dalam karya-karyanya banyak menggabungkan unsure-unsur musik gamelan dan non-gamelan. Dalam beberapa produksi dari grup ini Pande dipercaya untuk memainkan instrument-instrumen kunci.

Diah Kristin Natalia (Bali)
Lahir di Amlapura (Karangasem) Diah mulai belajar menari sejak di Sekolah Dasar. Untuk pendidikan tari formalnya, ia masuk ISI Denpasar dan berhasil mendapat gelar SSn di bidang komposisi tari pada tahun 2007. Selama empat tahun di bangku kuliah, Dia telah ikut pementasan ISI dalam berbagai pertunjukan bergensi seperti Pesta Kesenian Bali serta talah ikut berkolaborasi di antaranya dengan mahasiswa Middle Sex University (Inggris) dan Keiko Nakuno (Jepang).

Sekaa Legong ”Sabasari” Desa Saba-Blahbatuh-Gianyar
Sekaa “Sabasari” didirikan pada tahun 1911 oleh I Gusti Bagus Jelantik yang kemudian diteruskan oleh I Gusti Gede Raka. Sejak berdiri hingga sekarang, sekaa yang beranggotakan para penabuh dan penari dari desa Saba yang dilengkapi oleh sejumlah penabuh dari Pinda ini, telah menjadikan tari klasik Legong Keraton sebagai bidang spesialisasinya. Adalah sekaa ini yang menjadi pewaris dan penerus dari tradisi tari Legong yang tumbuh dan berkembang di bawah binaan I Gusti Gede Raka. Sekaa ini telah memiliki reputasi internasional yang ditandai dengan kunjungannya ke Jerman, Itali, Inggris, dan Prancis. Atas pengabdiannya di bidang seni tabuh dan tari, Sekaa Saba sari telah menerima penghargaan Dharma Kesuma dari Gubernur Kepala Daerah Propinsi Bali dan penghargaan seni linnya dari Pemerintah Pusat.

Schedule for
International Forum for Choreographers and Composers.
GEOKS-Singapadu
10-14 August 2007.

No Day / Date Time(Central Indonesia) Activities and place
1 Friday 10 August 2007 12.00 - Afternoon

19.00 - 21.00
Artist participants arrive.

Welcome party at GEOKS.
2 Saturday 11 August 2007 09.00 - 12.00

13.00 - 16.00

20.00 - 22.00
Stage Orientation (First night program)

Stage Orientation(Second night program).

First night Performance
1. Dance (Sudiharto - Yogya)
2. Music (Ary Wijaya - Bali)
3. Dance (Sianne Halim – Surabaya)
4. Dance (Gede Parwata-Bali)
5. Music (Wibowo - Yogya)
6. Dance (Gung Dwi - Bali).
7. Dance (Phon Sopheap - Cambodia)
3 Sunday 12 August 2007 10.30 - 12.30



12.00 - 13.00

20.00 - 22.00

Discussion Session I(For the first night program)

Dance presentation by: Diah Kristin Natalia – Bali

Lunch at GEOKS

Second night performance
1. Dance (Dek Geh - Bali)
2. Dance (Vita Valeska - NTB)
3. Music (Agus Teja Santosa - Bali
4. Dance (Yulia Puspasari -Solo)
5. Music (Dwi Harjanto - Solo)
6. Dance (Lee Swee Keong - Malaysia)
7. Dance (Billy - Taiwan)

4 Monday 13 August 2007 08.00 - 10.00

10.00 - 10.30

10.30 - 12.30




12.30 - 18.00

18.00 - 19.30

20.00 - 22.00
Exploring arts and cultural activities in Singapadu.

Coffee break at GEOKS

Discussion Session II
(Presentation of the second night).
Music presentation by:
Pande Eka Mardiana

Lunch break at GEOKS

Dinner at GEOKS

Cultural Evening
1. Music by Topa Group (Kaltim)
2. Dance (Kadek Danwan - Bali)
3. Work in Progress (Collaboration) “Monkey”
4. Classical Legong Dance by Sabasari Group of Gianyar.
5 Tuesday 14 August 2007 08.00 - Noon All participants leave Singapadu-Bali.
Denpasar, 21 July 2007
Direktur